Review Film: Deep Water (2026)

Jakarta, Creativity Mesh Indonesia

Ada banyak pertanyaan muncul seiring menyelami cerita

Deep Water (2026)

yang nyatanya tidak berlatar di perairan ‘sedalam’ judulnya. Yang pasti, film ini memang ditujukan untuk hanya sekadar ditonton dan biarkan berlalu.

Untuk film yang ditulis sampai empat orang: Pete Bridges, Shayne Armstrong, S.P. Krause, dan Damien Power, berdasarkan cerita Armstrong dan Krause, Deep Water (2026) adalah film yang mengecewakan dari aspek penulisan cerita.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Armstrong cs mungkin berusaha membayangkan film ala Final Destination (2000) kawin dengan Deep Blue Sea (1999) yang juga digarap oleh sutradara film ini, Renny Harlin, atau film soal hiu lainnya seperti Jaws (1975) atau Open Water (2003), akan tetapi ceritanya justru lebih mirip dengan No Way Up (2024).

Entah tim penulis tidak sengaja atau memang terinspirasi dari No Way Up dan memutuskan untuk membuat versi mereka. Yang jelas, hasilnya juga tidak sespesial itu.

Hal itu bahkan bisa disadari tak sampai 10 menit film ini dimulai. Mulai dari proses pengenalan karakter dan lingkungan, latar belakang masalah, hingga percakapan yang terjadi di antara para tokoh. Semua terasa seperti film yang bukan ditulis oleh empat orang.

Pengenalan karakter dan penokohan yang cenderung stereotipikal, percakapan yang dangkal, tidak berkesan, hingga penyusunan konflik, semua terasa terlalu klise untuk film yang tayang pada 2026.

Penonton tidak perlu menebak-nebak konflik antar karakter atau apa yang terjadi pada mereka. Semuanya terpampang nyata dan serupa dengan yang sudah pernah dikisahkan Hollywood.

Apalagi dengan eksekusi Harlin yang tampaknya sengaja mengambil referensi film lawas, sedikit membawa ingatan penonton ke gaya-gaya film drama aksi khas Amerika macam Top Gun: Maverick (2022). Atau bisa jadi Harlin memang tidak memiliki referensi gaya lain.

Harlin juga tampaknya enggan untuk memberikan improvisasi lebih atau meminta revisi atas naskah yang ia terima. Pun dirinya terlihat membiarkan cerita ini hancur berantakan bagai pesawat yang menghantam keras lautan seperti dalam naskah.

Namun Harlin sedikit mampu memberikan ketegangan yang pernah ia berikan dalam Deep Blue Sea (1999) pada Deep Water (2026). Ada beberapa pengadeganan yang memberikan keseruan dan ketegangan, terutama karena ditampilkan di layar lebar.

Setidaknya di antara berbagai plot cerita yang terasa sekali tidak logisnya Deep Water (2026), ada sedikit pengalaman yang bisa diambil, walaupun juga mengingatkan akan trauma teror Final Destination (2000).

Hal yang juga cukup menjadi pertanyaan dalam film ini adalah naskahnya yang terasa condong ‘mempertemukan’ Amerika Serikat dengan China, terutama bagaimana cerita ini selesai dengan logika latarnya di dunia nyata. Entah apakah ada motif politik dari tim penulis atau ada urusan sponsor, sayangnya narasi itu terlihat memaksakan saat ditampilkan di layar.

[Gambas:Youtube]

Omong-omong soal memaksakan, pemilihan peran dalam film ini juga punya masalah serupa selain daripada stereotipikal. Meski Aaron Eckhart bertindak bagai pahlawan yang

too good to be true

dalam film ini, sayangnya ia tak bisa membawa film ini sendirian.

Seperti karakternya, Eckhart seperti pria bingung yang harus tetap tampil gagah di antara puing-puing cerita. Pun pemeran protagonis lainnya yang sebanyak itu juga tak banyak membantu.

Meski begitu, Angus Sampson sangat sukses memerankan sosok antagonis, bahkan lebih mirip

villain

. Sampson tampak mudah membawakan karakter orang egois yang ada begitu banyak di luar sana, walau tidak seberlebihan yang ia bawakan.

Terlepas dari naskahnya yang

apa banget

dan aksi Angus Sampson yang menggerus batasan kesabaran, Armstrong cs memberikan resolusi cerita yang sangat diharapkan. Entah bagaimana jadinya bila film ini juga punya resolusi yang jauh dari makna ‘ganti rugi’ atas naskahnya sejak awal.

Yang jelas, Deep Water (2026) mengingatkan siapa pun yang akan naik pesawat: tolong patuhi aturan, terutama jangan bawa powerbank ke dalam bagasi, apalagi sampai meninggalkannya di dalam koper sembari mengecas perangkat lain dengan kabel butut.

(end)

[Gambas:Video Creativity Mesh]

Baca lagi: Usai Robot, AS Siapkan Larangan Perangkat Data Center China

Baca lagi: Turun ke Jalan, Rihanna Ikut Pawai Pakai Kostum Bulu-bulu ‘Gonjreng’

Baca lagi: Timteng Makin Panas, Houthi Bom Situs Minyak Saudi & Wilayah Yaman

4 Responses

  1. Saya sangat menikmati gaya pemikiran yang dituangkan dalam tulisan ini. Ulasannya terasa sangat jujur, berbobot, dan tidak terburu-buru dalam mengambil kesimpulan. Tulisan yang dipikirkan dengan sangat matang ini memberikan dampak pemikiran yang mendalam bagi pembacanya. wijaya88 login

  2. Artikel yang luar biasa! Penjelasan di setiap poinnya sangat runtut dan didasari argumen yang kuat. Saya sangat setuju dengan poin mengenai pentingnya fondasi utama yang dibahas di bagian awal, karena sering kali hal tersebut luput dari perhatian banyak orang. Terima kasih sudah menyajikan tulisan berbobot ini! link alternatif genting138

  3. Artikel yang sangat informatif dan memberikan banyak pengetahuan baru. Penyampaiannya jelas, lengkap, dan nyaman untuk dibaca. Terima kasih telah membagikan konten berkualitas. Jangan lupa mampir ke situs kami untuk informasi terbaru.RAJAEROPA

  4. Artikel yang luar biasa kaya akan informasi. Struktur pembahasannya sangat sistematis sehingga memudahkan saya untuk memahami poin-poin krusial yang ingin disampaikan. Ditunggu artikel menarik berikutnya!bejo88 link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: